BAB Hal kedua yang penting dilakukan adalah palpasi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

 

 

 

2.1  Fraktur Tulang

Fraktur
tulang atau patah tulang adalah kondisi terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/atau tulang rawan. Fraktur tulang terjadi jika tulang terkena stres yang
lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya dan secara rudapaksa. Trauma yang
menyebabkan fraktur tulang dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak
langsung (YW Fadliani, 2013).

Jenis
fraktur tulang berdasarkan bentuk patahannya dapat dibedakan menjadi fraktur
komplit dan inkomplit. Fraktur inkomplit meliputi sebagian retakan yang hanya
terjadi pada sebelah sisi tulang. Sedangkan fraktur komplit memiliki gambaran
berupa garis fraktur yang memotong seluruh tulang. Berdasarkan lokasinya,
frakur tulang dapat terjadi di area proksimal, medial, maupun distal tulang
(Mahartha, 2013).

 

2.1.1 Diagnosis Fraktur

Anamnesis
dan pemeriksaan fisik merupakan prosedur vital untuk menegakkan diagnosis fraktur
tulang. Anamnesis berguna untuk menggali riwayat trauma yang dapat menjelaskan
mekanisme fraktur, ada atau tidaknya kejadian fraktur sebelumnya, riwayat
pekerjaan, obat-obatan yang pernah dikonsumsi, dan kondisi sosial ekonomi dari
pasien (Mahartha, 2013).

Selain
itu, pemeriksaan fisik juga harus dilakukan dengan mengacu pada tiga hal
penting, yakni inspeksi adanya bengkak dan deformitas (angulasi, rotasi,
pemendekan, dan pemanjangan). Hal kedua yang penting dilakukan adalah palpasi
untuk menentukan derajat dan lokasi nyeri tekan dan krepitasi. Palpasi juga
berguna untuk menguji sensasi dan pulsasi bagian distal dari fraktur. Hal ini
mengingatkan
bahwa struktur di sekitar tulang terdiri dari struktur neuromuskulovaskular
(Mahartha,2013).

Pemeriksaan
kemampuan gerak menjadi poin penting ketiga untuk menilai apakah terdapat
keterbatasan gerak sendi yang berdekatan dengan lokasi fraktur (Mahartha,2013).
Selain itu, pemeriksaan pergerakan juga untuk menilai adanya false movement yang berupa pergerakan
antara dua sisi fragmen tulang yang patah dan hal ini menjadi ciri khas
fraktur.

Pemeriksaan fisik juga harus melingkupi vaskularitas
dari ekstremitas termasuk warna, suhu, perfusi, perabaan denyut nadi, capillary return (normalnya < 3 detik) dan pulse oximetry. Pemeriksaan neurologi yang detail juga harus merepresentasikan fungsi sensoris dan motoris (Backley R. et al., 2016).   2.1.2 Proses Penyembuhan Fraktur Tulang yang fraktur mampu mengalami mekanisme penyambungan secara alami. Uraian tersebut antara lain fase hematoma, proliferasi sel-sel osteogenik, pembentukan kalus, konsolidasi, dan remodeling (Solomon et al., 2010). Pada fase hematoma terjadi perdarahan dan kerusakan jaringan tulang di area fraktur. Selanjutnya dalam waktu 8 jam pertama pasca fraktur terjadi reaksi inflamasi akut dengan migrasi sel-sel inflamasi. Pada fase inflamasi juga berlangsung tahap awal proses proliferasi dan diferensiasi mesenchymal stem cells (MSCs) dari periosteum. MSCs selanjutnya berubah menjadi sel-sel osteogenik seperti osteoblas dan osteoklas pada awal fase kalus. Sel-sel osteogenik ini mulai memformasi tulang baru dan meresorpsi fragmen-fragmen fraktur hingga membentuk tulang imatur (woven bone). Dalam waktu beberapa minggu, woven bone mengisi celah di area fraktur sehingga tulang kembali menyatu. Tahapan dilanjutkan pada fase konsolidasi. Woven bone berubah menjadi tulang lamellar sehingga area fraktur semakin menyatu secara rigid. Akhirnya pada fase remodeling, tulang yang solid ini diubah mendekati bentuk normal kembali melalui keberlanjutan proses resorpsi dan formasi (Solomon et al., 2010). ­­­   Gambar 2.1 Proses Penyembuhan Tulang (Solomon et al., 2010)   2.1.3 Prinsip Penanganan Fraktur Karya ilmiah ini meneliti fraktur tertutup, sehingga prinsip penanganan yang dibahas ialah manajemen pada fraktur tertutup. Penanganan tersebut meliputi prinsip reduksi, mempertahankan reduksi (holding reduction), dan latihan. Mekanisme reduksi yaitu mengembalikan posisi patahan tulang sebisa mungkin seperti posisi semula. Metode reduksi ada dua macam, yaitu reduksi secara tertutup dan terbuka. Reduksi tertutup mempunyai tiga macam manuver yaitu penarikan segmen distal fraktur hingga sejajar dengan garis normal tulang, disimpaksi, dan menekan (pressing) fragmen fraktur ke posisi tereduksi. Selain itu, tipe reduksi terbuka dilakukan melalui cara operatif. Metode reduksi terbuka dilaksanakan apabila manajemen reduksi tertutup gagal atau terdapat fragmen artikular yang membutuhkan pengaturan posisi yang akurat (Solomon et al., 2010). Setelah reduksi, penanganan dapat berlanjut pada holding reduction untuk mempertahankan posisi reduksi selama waktu penyembuhan. Metode holding reduction dapat dilakukan secara tertutup ataupun terbuka melalui cara operasi. Teknik ini meliputi traksi, bidai balut, dan fiksasi eksternal maupun internal.   Gambar 2.2 Pembidaian cara plaster/ pembalut (Solomon et al., 2010)   Prinsip terakhir ialah latihan atau exercise. Tujuan dari latihan adalah mencegah oedema yang hampir tidak bisa terelakkan terjadi setelah fraktur. Selain itu, latihan berguna untuk memelihara pergerakan persendian, menjaga kekuatan otot, dan memandu pasien agar mampu kembali melakukan aktivitas normal. Latihan ini meliputi evaluasi tungkai yang fraktur, latihan aktif, hingga pelatihan untuk melakukan aktivitas fungsional seperti berjalan, mandi, berpakaian, dan memegang peralatan makanan (Solomon et al., 2010).   2.2  Reactive Oxygen Species (ROS) Reactive Oxygen Species (ROS) secara sederhana mengacu pada molekul reaktif yang berasal dari oksigen. ROS memiliki beberapa macam bentuk, antara lain ion radikal bebas dan non-radikal bebas. Tipe radikal bebas terdiri dari anion superoksida dan radikal hidroksil. Sedangkan tipe non-radikal bebas ialah hidrogen peroksida (Bolisetty dan Jaimes, 2013). Anion superoksida bersifat tidak terlalu merusak, tetapi dapat membentuk hidrogen peroksida yang berperan dalam pembentukan radikal hidroksil. Radikal hidroksil merupakan ion radikal bebas yang paling reaktif dan bertanggung jawab besar dalam efek sitotoksik ROS (Bolisetty dan Jaimes, 2013). Radikal hidroksil juga dapat bereaksi dengan hampir seluruh struktur biomolekuler. Hidrogen peroksida dapat menjadi sumber pembentuk radikal hidroksil (Nurmasari, 2013).     Gambar 2.3 Struktur elektron dan rumus kimia ROS (Nurmasari, 2103)   ROS memiliki peran penting dalm fungsi biologis apabila diproduksi dalam jumlah normal. Fungsi ROS antara lain membunuh beberapa jenis bakteri dan jamur setelah ROS yang berupa H2O2 tersebut dihasilkan oleh leukosit. Fungsi lainnya ialah mengatur pertumbuhan sel. Di sisi lain, ROS yang terus bertambah di atas normal dapat menimbulkan kerusakan DNA ataupun sel. Efek destruktif dari ROS tersebut dikenal sebagai stres oksidatif. Stres oksidatif yang terjadi pada DNA bisa menyebabkan perubahan struktur DNA sehingga bisa terjadi mutasi dan sitotoksisitas (Daulay, 2011). Sedangkan stres oksidatif yang menyerang sel dapat menimbulkan kerusakan membran sel. Salah satu cara ROS merusak membran sel ialah menginisiasi peroksidasi lipid pada membran sel. Peroksidasi lipid yang terus berlangsung secara berantai akan mempengaruhi struktur dan fungsi membran sel (Daulay, 2011).   2.2.1 Keterkaitan ROS dalam Fraktur Tulang Ketika fraktur tulang terjadi, maka timbul proses mekanisme penyembuhan tulang. Saat fase inflamasi, komponen inflamasi seperti sitokin, leukosit terutama neutrofil, dan komponen lainnya akan bermigrasi ke area fraktur. Tujuannya adalah menstimulasi diferensiasi dan proliferasi mesenchymal stem cells (MSCs) menjadi sel osteogenik seperti osteoblas dan osteoklas. Di sisi lain, komponen inflamasi ini juga dapat menginduksi peningkatan ROS di area fraktur. Jika ROS meningkat melebihi kemampuan antioksidan dalam menangkalnya, maka kondisi ini berpotensi menyebabkan aktivitas sel pembentuk tulang baru menjadi terhambat (Corbett, 1999). Hal ini juga dapat berkaitan dengan pengaruh ROS yang menjadikan aktivitas osteoklas meningkat (Sheweita dan Khosshal, 2007). Stres oksidatif dapat terjadi pada kondisi fraktur. Radikal bebas dalam tubuh dihasilkan dari aktivitas fragmen tulang yang bereaksi dengan kolagen dan oksigen, serta aktivitas osteoklas dalam penyembuhan fraktur. Stres oksidatif ini terjadi bila jumlah radikal bebas tidak diimbangi dengan jumlah antioksidan yang mengurangi radikal bebas tersebut (Sheweita, 2007). Apabila stres oksidatif tidak dapat ditangani, radikal bebas akan mempengaruhi mekanisme penyembuhan fraktur tulang dalam tubuh. Radikal bebas yang terkandung dalam RNS, memiliki beberapa jenis, salah satunya adalah NO yang dalam jumlah normal berperan dalam penyembuhan fraktur karena memediasi terjadinya vasodilatasi dan ploriferasi vaskuler dalam pembentukan kalus. Selain NO, peningkatan aktivitas dari iNOS menyebabkan peningkatan dalam jumlah NO. Hal ini menyebabkan inhibisi dari ploriferasi dan diferensiasi osteoblas, menginduksi terjadinya apoptosis osteoblas. Selain itu, iNOS dan eNOS juga dapat menyebabkan supresi fungsi osteoklas untuk mendegenerasi sel yang mati (Febrina, 2014). Sedangkan radikal bebas yang lainnya, yakni senyawa yang terkandung dalam ROS dapat mempengaruhi proses penyembuhan fraktur, khususnya dalam regenerasi sel. Selain itu, ROS juga memediasi proses peroksidasi lipid, yang apabila terjadi ketidakseimbangan dalam proses terminasi, dapat menginisiasi terbentuknya senyawa radikal yang reaktif dan toksik. Hal ini akan mengaktifkan mediator inflamasi yang dapat menyebabkan kerusakan pada lipoprotein dan berakhir pada disfungsi atau kerusakan sel. Oleh karena itu, jumlah ROS yang meningkat akan menjadi penghambat dari regenerasi sel dalam proses penyembuhan fraktur (Cadenas, 2002). Akibat dari peningkatan aktivitas osteoklas ialah gangguan mekanisme penyembuhan tulang. Ketidakseimbangan antara penguraian yang lebih intensif daripada pembentukan tulang baru ini dapat memperlama waktu penyembuhan.   2.2.2 Malondialdehida (MDA) sebagai Biomarker ROS Malondialdehida (MDA) adalah salah satu hasil pemecahan tidak sempurna hidroperoksidase selama peroksidasi lemak tidak jenuh melalui reaksi enzimatis. Dalam proses peroksidasi lemak, peroksida lipid akan dipecah menjadi epoksida, hidrokarbon dan aldehid. Salah satu aldehid yang dihasilkan adalah malondialdehida (MDA) (Gurdol, 2008). MDA digunakan secara luas sebagai salah satu biomarker radikal bebas. Salah satu alasan MDA menjadi indikator radikal bebas sebagai penanda terjadinya stres oksidatif pada fraktur adalah proporsi hasil MDA terhadap proses peroksidasi lipid relatif konstan sehingga dapat digunakan sebagai indikator pengukuran peroksidasi lipid secara in vivo (Nugraheni, 2011). Aktivitas osteoklastik yang meningkat saat fraktur tulang dapat diinterpretasikan dengan tingkat peroksidasi lipid yang terjadi akibat ROS. Oleh karena itu, malondialdehida (MDA) sebagai produk akhir peroksidasi lipid dapat digunakan sebagai biomarker level ROS saat terjadi fraktur tulang. Perubahan kadar MDA menunjukkan adanya perubahan aktivitas radikal bebas (Sheweita dan Khosshal, 2007). Kadar MDA ini meningkat pada hari ke-7 dan hari ke-14 setelah proses fraktur (Prasad, 2003).   2.3 Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) 2.3.1 Karakteristik Bayam Bayam merupakan tanaman yang banyak ditemukan di Asia, khususnya Asia Selatan dan Asia Tenggara (Grubben dan Denton, 2006). Bayam tersebar luas di pulau Jawa dan Pulau Maluku. Bayam Amaranthus tricolor L. Dikenal dengan nama yang berbeda-beda di setiap daerah seperti bayam glatik, bayam putih, bayam merah (Jakarta), bayam abrit, bayam sekul, bayam siti (Jawa), jawa lufife, tona ma gaahu, baya roriha, loda kohori (Maluku). Nama lain dari tanaman ini adalah Amaranthus gangenticus dan Amaranthus tristis. Terdapat tiga varietas bayam yang termasuk Amaranthus tricolor L. Yaitu bayam hijau biasa, bayam merah (Blitum rubrum) yang memiliki batang dan daun berwarna merah, serta bayam putih (Blitum album) yang berwarna hijau keputih-putihan. Bayam ini dijual di pasaran dikenal sebagai bayam cabutan atau bayam sekul (Dalimartha, 2005). Dalam taksonomi, bayam ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Kingdom         : Plantae Subkingdom    : Tracheobionta Super Divisi    : Spermatophyta Divisi               : Magnoliophyta Kelas               : Magnoliopsida Sub Kelas        : Hamamelidae Ordo                : Caryphyllales Famili              : Amaranthaceae Genus              : Amaranthus Spesies            : Amaranthus tricolor L. (Saparinto, 2013). Bayam merah berasal dari India (Indian spinach). Biasanya tumbuh di ladang, pekarangan rumah, pinggir jalan dan tanah tandus. Dapat tumbuh di ketinggian 1-700 mdpl (Utami, 2008). Tanaman bayam merah memiliki ciri berdaun tunggal, ujungnya meruncing, lunak dan lebar. Batangnya lunak dan berwarna putih kemerah-merahan. Buahnya tidak berdaging, tetapi bijinya banyak, sangat kecil, bulat, dan mudah pecah. Tanaman ini memilki akar tunggang dan berakar samping. Akar sampingnya kuat dan agak dalam. Tanaman ini berbentuk perdu atau semak. Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) atau yang biasa disebut bayam cabut atau bayam sekul ada yang berwarna kemerahan (bayam merah) dan ada juga yang berwarna hijau keputih-putihan (bayam putih). Bayam ini berbunga pada ketiak daun (Sunarjono, 2013). Adapun gambar bayam merah (Amaranthus tricolor L.) dapat dilihat pada Gambar 2.4.     Gambar 2.4 Amaranthus tricolor L. (Amornrit & Santiyanont, 2015).   2.3.2  Antioksidan Bayam Merah Antioksidan adalah substansi yang penting dalam sistem pertahanan tubuh untuk melawan efek merusak dari ROS. Mekanisme antioksidan tubuh menetralisir ROS berlebihan tersebut yaitu melalui cara pemindahan elektronnya pada molekul ROS (Nurmasari, 2013). Berkaitan dengan proses penyembuhan fraktur tulang, keterlibatan ROS dalam jumlah abnormal yang menghambat proses penyembuhan juga memerlukan intervensi berupa antioksidan. Berdasarkan sumbernya, antioksidan dikelompokkan menjadi antioksidan endogen dan eksogen. Antioksidan endogen dihasilkan oleh tubuh dan bekerja secara enzimatis melalui proses metabolisme sel. Contoh antioksidan ini ialah superoxide dismutase dan glutathione peroxidise (Nurmasari, 2013). Apabila antioksidan endogen tidak dapat mengatasi efek merusak dari ROS, maka penyembuhan fraktur tulang berkadar ROS tinggi memerlukan antioksidan eksogen. Antioksidan eksogen merupakan antioksidan yang diperoleh dari luar tubuh (Nurmasari, 2013). Contoh senyawa antioksidan ini yakni flavonoid. Zat ini banyak terkandung pada bayam merah. Antioksidan merupakan lini pertama sistem pertahanan tubuh terhadap bahaya radikal bebas dengan menyumbangkan elektron dan reduktan. Bayam merupakan sayuran berwarna yang tinggi antioksidan sehingga sangat berpotensi dalam melawan oksidan terutama radikal bebas yang dapat menurunkan kondisi kesehatan tubuh (Kemenkes, 2014). Senyawa fotokimia pada daun bayam yang berfungsi sebagai antioksidan adalah flavonoid, vitamin c, beta karoten, dan klorofil. Kadar kandungan antioksidan daun bayam dapat dilihat pada tabel 2.2. Sedangkan kandungan zat nutrisi pada daun tanaman bayam merah dalam per 100 gram porsi bayam bisa dilihat pada Tabel 2.1.   Tabel 2.1 Kandungan zat nutrisi tanaman bayam merah No Kandungan Bayam Berat 1 Zat Besi 2,2 g 2 Energi 51 kcal 3 Protein 4,6 g 4 Lemak 0,5 g 5 Karbohidrat 10 g 6 Kalsium 368 g 7 Fosfor 111 g 8 Vitamin A 5.800 mg 9 Vitamin B 0,08 mg 10 Vitamin C 80 mg 11 Air 86 gr Sumber : Direktorat Gizi (Depkes, 1992)     Tabel 2.2 Kadar kandungan antioksidan daun bayam Antioksidan Kandungan per 100g Flavonoid 485 mg Vitamin C 80 mg Beta karoten 11,9 µg Klorofil 8,8 µg Sumber: Rajalakshmi et al. (2011) Daun bayam merah (Amaranthus tricolor L.) mengandung vitamin A, vitamin B6, vitamin C, klorofil, ?-karoten, dan riboflavin (Rajalaksmi et al., 2011). Daun bayam merah (Amaranthus tricolor L.) juga mengandung alkaloid, glikosida, flavonoid, tannin, antrakuinon, saponin, minyak volatile, kumarin, sterol, dan triterpen (Al-Dosari, 2010). Studi lain menyebutkan bahwa kandungan dalam daun bayam merah (Amaranthus tricolor L.) terdapat karbohidrat, flavonoid seperti betasianin A dan B, amaranthin, isoamaranthin, quercetin dan beberapa senyawa sterol seperti spinasterol, kolesterol, kampesterol, 24-metilen kolesterol, stigmasterol, sitosterol, fukosterol, dan isofukosterol (Rahamatullah et al., 2013). Antioksidan daun bayam merah berperan sebagai penangkap radikal bebas (radical scavenger) dengan mendonorkan elektronnya. Flavonoid sebagai antioksdian tidak hanya berperan sebagai radical scavenger, namun juga berperan sebagai chelating ion logam sehingga kerusakan sel akibat radikal hidroksil yang dihasilkan dari reaksi hidroperoksida (H2O2) dengan ion logam dapat diredam. Logam transisi seperti Fe dan Cu memiliki elektron yang tidak berpasangan sehingga sangat reaktif dalam mengkatalisis reaksi redoks tubuh. Flavonoid juga mampu menghambat kerja enzim CYP dalam menghasilkan radikal bebas (Kumar dan Pandey, 2013). Vitamin C sebagai radical scavenger mampu menyumbangkan dua elektronnya sehingga terbentuk radikal askorbil yang akan teroksidasi dan menghasilkan asam dehidroaskorbat (McDowell et al., 2007). Vitamin C dan flavonoid dapat meningkatkan kadar antioksidan endogen seperti katalase (CAT), superoksida dismutase (SOD), dan glutation (GSH) (Katose et al., 2015). Beta karoten dan klorofil berperan sebagai pemberi pigmen yang kaya akan antioksidan sebagai radical scavenger. Beta karoten termasuk dalam vitamin antioksidan yang larut dalam lemak sehingga mampu melindungi membran sel (Mueller dan Boehm, 2011). Klorofil sebagai antioksidan sama halnya dengan flavonoid, tidak hanya berperan sebagai radical scavenger, namun juga berperan sebagai chelating ion logam (Hsu et al., 2013). Jenis flavonoid yang terdapat pada daun bayam Amaranthus tricolor L. adalah kuersetin dan rutin (Noori et al., 2015). Kuersetin khususnya dikenal sebagai chelating ion Fe dengan menstabilkan Fe agar tidak berikatan dengan H2O2 membentuk OH- yang termasuk dalam radikal bebas yang sangat reaktif. Jenis flavonoid lain yang ditemukan pada daun bayam Amaranthus tricolor L. adalah katekin (Ghasemzadeh et al., 2012). Katekin dan rutin memiliki sifat radical scavenger yang sangat kuat karena cincin B flavonoid mempunyai gugus katekol dengan radikal ortho semiquinon yang stabil untuk mengikat radikal bebas (Kumar dan Pandey, 2013). Berdasarkan penelitian Niken (2016), ekstrak etanol daun bayam merah memiliki nilai IC5043,4 ppm yang dikategorikan ke dalam antioksidan sangat kuat begitu juga dengan vitamin C sebagai pembanding dengan nilai IC506,47 ppm yang dikategorikan juga dalam antioksidan sangat kuat. Hal ini disebabkan oleh kandungan yang terdapat pada tumbuhan daun bayam merah yang terdiri dari flavonoid quersetin dan vitamin C sebagai antioksidan. Vitamin C merupakan senyawa murni yang memiliki potensi kuat sebagai antioksidan sehingga nilai IC50 nya lebih kecil dibandingkan dengan ekstrak etanol daun bayam merah, sedangkan ekstrak etanol daun bayam merah merupakan campuran dari beberapa macam senyawa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa senyawa aktif yang terkandung dalam daun bayam merah (Amaranthus Tricolor L.) dapat sebagai antioksidan kuat, dengan mekanisme menangkap dan menetralisir radikal bebas (Tjay dan Rahardja, 2007). Berdasarkan penelitian tersebut, daun bayam merah berpotensi sebagai antioksidan dengan aktivitas sangat kuat sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh L. Fahrurrozi (2013) dengan menggunakan daun petai cina dan memungkinkan untuk dijadikan sebagai acuan penelitian selanjutnya.                         2.4 Kerangka Konseptual Penelitian                                                   Gambar 2.5 Kerangka Konseptual Penelitian Keterangan: =  memicu =  menghambat                         =  yang diteliti Tubuh memiliki mekanisme penyembuhan fraktur tulang secara alami untuk mengembalikan kondisi tulang yang diskontinu. Proses penyembuhan ini bisa dihambat oleh suatu senyawa radikal bebas yang beredar dalam tubuh. Pada kasus fraktur tulang, radikal bebas dibentuk oleh jaringan tulang yang rusak dan aktivitas fragmen tulang yang bereaksi dengan kolagen dan oksigen, serta aktivitas osteoklas. Hal ini menyebabkan kadar radikal bebas dalam tubuh meningkat secara masif. Peningkatan radikal bebas yang tinggi tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah antioksidan endogen dalam tubuh berdampak pada terjadinya stres oksidatif. Hal ini berpotensi mengganggu mekanisme penyembuhan tulang karena sifat radikal bebas yang mampu menghambat kerja sel-sel tulang muda untuk membentuk bakal tulang baru (kalus). Dalam menangani stres oksidatif, dibutuhkan antioksidan eksogen untuk membantu supresi radikal bebas yang beredar dalam tubuh. Antioksidan ini dapat berasal dari antioksidan yang terkandung dalam ekstrak etanol bayam merah. Flavonoid sebagai antioksdian tidak hanya berperan sebagai penangkap radikal bebas (radical scavenger), namun juga berperan sebagai chelating ion logam sehingga kerusakan sel akibat radikal hidroksil yang dihasilkan dari reaksi hidroperoksida (H2O2) dengan ion logam dapat diredam. Logam transisi seperti Fe dan Cu memiliki elektron yang tidak berpasangan sehingga sangat reaktif dalam mengkatalisis reaksi redoks tubuh. Flavonoid juga mampu menghambat kerja enzim CYP dalam menghasilkan radikal bebas. Vitamin C sebagai radical scavenger mampu menyumbangkan dua elektronnya sehingga terbentuk radikal askorbil yang akan teroksidasi dan menghasilkan asam dehidroaskorbat. Vitamin C dan flavonoid dapat meningkatkan kadar antioksidan endogen seperti katalase (CAT), superoksida dismutase (SOD), dan glutation (GSH). Beta karoten dan klorofil berperan sebagai pemberi pigmen yang kaya akan antioksidan sebagai radical scavenger. Beta karoten termasuk dalam vitamin antioksidan yang larut dalam lemak sehingga mampu melindungi membrane sel. Klorofil sebagai antioksidan sama halnya dengan flavonoid, tidak hanya berperan sebagai radical scavenger, namun juga berperan sebagai chelating ion logam. Biomarker yang ditinjau sebagai parameter penilaian tingkat radikal bebas adalah MDA. Peningkatan radikal bebas yang menstimulasi peningkatan kadar MDA ini yang berpeluang besar menyebabkan hambatan proses penyembuhan fraktur. Oleh karena itu, adanya terapi nutrisi yang berbasis ekstrak etanol bayam merah ini diharapkan mampu mensupresi radikal bebas ditinjau dari kadar MDA supaya bisa membantu proses penyembuhan fraktur tulang.   2.5  Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Pemberian ekstrak etanol bayam merah (Amaranthus tricolor L.) berpengaruh dalam menurunkan kadar MDA serum tikus wistar jantan model fraktur tulang.