1. peradaban Mesir Kuno yaitu pada tahun 3000

1.     Latar
Belakang

 

Kriptografi menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang kode rahasia, Teknik
yang mengubah data menjadi berbeda dari aslinya menggunakan algoritma
matematika sehingga orang yang tidak mengetahui kuncinya tidak akan dapat
membongkar data tersebut 1.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Kriptografi sudah aja sejak jaman dulu dimana
bangsa Spartan dari Yunani menggunakan metode “Scytale” untuk menyampaikan
pesan rahasia terutama untuk perintah dalam perang yaitu pada awal tahun 400 SM
2. Ditarik lebih jauh lagi kriptografi ditemukan dalam peradaban Mesir Kuno
yaitu pada tahun 3000 SM. Bangsa Mesir Kuno menggunakan ukiran rahasia yang
disebut dengan “Hieroglyphics” untuk menyampaikan suatu pesan hanya kepada
orang-orang tertentu.

Perkembangan selanjutnya adalah pada saat
Perang Dunia kedua dimana pada saat itu tantara Jerman menggunakan alat yang
dinamakan Enigma untuk mengenkripsi setiap pesan kepada pasukan militernya. Kemudian
mesin enigma terpecahkan oleh Polandia dan teknoligya dikirimkan ke
kriptografer inggris yang akhirnya digunakan untuk mendapatkan kunci dari
enigma setiap harinya 3.

Di masa sekarang Kriptografi masih digunakan
untuk mengamankan pesan maupun berkas file yang dirahasiakan daam bentuk
digital. Hal ini digunakan untuk menjaga kerahasiaan antara pengirim dan
penerima pesan agar para penyusup tidak mengetahui makna dari pesan tersebut.

Data Encryption Standard (DES) diciptakan
pada tahun 1973 yang kemudian digunakan untuk sistem enkripsi nasional di
Amerika. Kemudian pada tahun 1997 DES dipecahkan hanya dengan brute force
attack karena ternyata kelemahan dari DES adalah kecilnya ukuran kunci.
Kemudian dibuatlah Advance Encryption Stadard (AES) pada tahun 2000 yang
mengutamakan kerahasiaan kunci, bukan dari kerahasiaan algoritma enkripsi dan
dekripsi(Kerckhoffs’s principle).

Dalam Penelitian kali ini akan dilakukan
perbandingan dekripsi dan enkripsi antara algoritma dan metode dari DES dan
AES.

1.1  Rumusan
Masalah

 

Menentukan
metode yang lebih baik antara DES dan AES melalui korelasi dari plaintext dan
ciphertextnya.

 

1.2 Tujuan

 

Tujuan dari penelitian ini adalah :

a)    
Memenuhi
Tugas Akhir Semester matakuliah Keamanan Data.

b)   
Membandingkan Enkripsi Dekripsi dengan metode
Data Encryption Standard (DES) dan Advance Encryption Standard (AES)

2.     Kajian
Pustaka

2.1 Teori Kriptografi

 

Kriptografi menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang kode rahasia, Teknik
yang mengubah data menjadi berbeda dari aslinya menggunakan algoritma
matematika sehingga orang yang tidak mengetahui kuncinya tidak akan dapat
membongkar data tersebut. Proses penyamaran dari plaintext (naskah asli)
disebut enkripsi sehingga menjadi sebuah ciphertext (naskah tanpa makna).
Kemudian proses pengembaliannya disebut enkripsi. Biasanya proses ini
menggunakan sebuah kunci tertentu yang kerahasiaannya hanya diketahui oleh
pihak pengirim dan penerimanya.

2.2 Data Encryption Standard (DES)

 

DES merupakan salah satu algoritma kriptografi cipher block dengan
ukuran blok 64 bit dan ukuran kuncinya 56 bit. Algoritma DES dibuat di IBM, dan
merupakan modifikasi daripada algoritma terdahulu yang bernama Lucifer. Lucifer
merupakan algoritma cipher block yang beroperasi pada blok masukan 64 bit dan
kuncinya berukuran 128 bit. Pengurangan jumlah bit kunci pada DES dilakukan
dengan alasan agar mekanisme algoritma ini bisa diimplementasikan dalam satu
chip. DES pertama kali dipublikasikan di Federal Register pada 17 Maret 1975.
Setelah melalui banyak diskusi, akhirnya algortima DES diadopsi sebagai
algoritma standar yang digunakan oleh NBS (National Bureau of Standards) pada
15 Januari 1977. Sejak saat itu, DES banyak digunakan pada dunia penyebaran
informasi untuk melindungi data agar tidak bisa dibaca oleh orang lain.

S-Box yang digunakan pada DES. S-Box merupakan bagian vital dari DES
karena merupakan bagian yang paling sulit dipecahkan. Hal ini disebabkan karena
S-Box merupakan satu – satunya bagian dari DES yang komputasinya tidak linear.
Sementara itu, rancangan dari S-Box sendiri tidak diberitahukan kepada publik.
Karena itulah, banyak yang curiga bahwa S-Box dirancang sedemikian rupa
sehingga memberikan trapdoor kepada NSA agar NSA bisa membongkar semua
ciphertext yang dienkripsi dengan DES kapan saja. Kontroversi yang kedua adalah
jumlah bit pada kunci DES yang dianggap terlalu kecil, hanya 56 bit. Akibatnya
DES rawan terhadap serangan brute force.

 

2.3 Advance Encryption Standard (AES)

 

AES dipublikasikan oleh NIST (National
Institute of Standard and Technology) pada tahun 2001 yang digunakan untuk
menggantikan algoritma DES yang semakin lama semakin mudah untuk membobol
kuncinya. AES diperoleh dari hasil kompetisi yang diadakan NIST pada tahun
1997. Pada tahap pertama, 15 peserta dari 21 peserta lolos ke tahap berikutnya
berdasarkan penilaian tingkat keamanan, harga, algoritma, dan karakteristik
implementasi. Sepuluh dari 15 peserta tersebut gugur pada tahap berikutnya
karena dianggap kurang aman dan kurang efektif. Pada Agustus 1999 dipilih lima
kandidat untuk seleksi akhir, yaitu Mars (IBM, Amerika Serikat), RSA (RSA
corp., Amerika Serikat), Rijndael (Belgia), Serpent (Israel, Norwegia, dan
Inggris), dan Twofish (Counterpane, Amerika Serikat). Pada tahap ini, NIST memberikan
penilaian terhadap general security, implementasi software, ruang lingkup,
implementasi hardware, implementasi atas serangan, enkripsi dan dekripsi,
kemampuan kunci, kemampuan lain dan fleksibilitas, dan kepotensialan untuk
tingkat intruksi paralel. Akhirnya, pada tanggal 2 Oktober 2000 terpilihlah
algoritma Rijndael, yang dibuat oleh Dr. Vincent Rijment dan Dr. Joan Daemen,
sebagai pemenang 4.

Dalam proses enkripsi input, diperlukanlah empat macam operasi yang
dilakukan berulang-ulang dalam beberapa putaran dan menggunakan kunci cipher.
Jumlah putarannya yang digunakan ada 3 jenis. Jenis AES-128 menggunakan kunci
128 bit melakukan 10 putaran. Jenis AES-192 menggunakan kunci 192 bit melakukan
12 putaran. Dan yang terakhir AES-256 menggunakan kunci 256 bit dan melakukan
14 putaran.

 

3.     Metode
Penelitian

 

Untuk membandingkan enkripsi dekripsi DES dan
AES dalam hal korelasi antara plaintext dengan ciphertext yang dihasilkan kita
menggunakan 4 tahap, yaitu : (a) tahap pertama adalah menentukan plaintext dan
kunci untuk DES dan AES; (b) tahap kedua adalah mengenkripsi setiap plaintext
dengan kunci yang telah ditentukan; (c) tahap ketiga adalah mendekripsi
ciphertext yang telah terbentuk dari enkripsi DES dan AES sebelumnya; (d) tahap
terakhir adalah membandingkan korelasi antara plaintext dengan ciphertext yang
terbentuk. Untuk enkripsi dan dekripsinya kita menggunakan bahasa java.

 

3.1   Menentukan Plaintext dan Kunci

 

Plaintext untuk DES dan AES harus sama,
karena disini kita akan membandingkan korelasi antara plaintext dengan
ciphertext yang dihasilkan. Melanjutkan dari penelitian sebelumnya mengenai
kriptografi klasik yaitu membandingkan korelasi antara plaintext dengan
ciphertext menggunakan sistem Rotor dan Substitusi Index yang kuncinya kita
menggunakan sistem undi (lotre), maka ditentukanlah plaintextnya yaitu :

a)    
Kalimat
Acak

FTIUKSWSALATIGA

KAMPUSBLOTHONGAN

ALZDANNYWOWOR

WIDRAWIDYAPUTRA

SALATIGAJATENG

WISATAKOPENG

GUNUNGMERBABU

RAWAPENING

KOPIBANARAN

VANIABEATRICE

b)   
Text
yang Ditentukan

XZZZZZZZ

ZXZZZZZZ

ZZXZZZZZ

ZZZXZZZZ

ZZZZXZZZ

ZZZZZXZZ

ZZZZZZXZ

ZZZZZZZX

Kemudian kita menentukan kuncinya, untuk
sistem DES kuncinya adalah “ftiukswsalatiga” karena dalam DES kita membutuhkan
minimal 8 karakter untuk menjadi kunci. Dan untuk AES adalah 16 karakter
(AES-128).

 

3.2   Tahap Enkripsi Text

 

Setelah menentukan plaintext dan kuncinya kita bisa mulai
mengenkripsi text tersebut. Kita enkripsikan text tersebut satu persatu menggunakan
aplikasi java. Setelah itu kita catat enkripsinya ke dalam format excel untuk
kemudian bisa kita bandingkan dalam hal korelasinya.

 

3.3   Tahap Dekripsi Ciphertext

 

Dalam tahap ini ciphertext yang dihasilkan sebelumnya
kita dekripsi menggunakan kunci yang sama. Dengan program java sudah terinclude
enkripsi dan dekripsinya. Jadi setelah plaintext dalam notepad dienkripsi
menjadi ciphertext, kemudian ciphertext dalam notepad tersebut langsung
dideskripsikan. Lalu semuanya kita masukkan kedalam format excel dan bandingkan
korelasinya.

 

3.4   Tahap Membandingkan Plaintext dengan
Ciphertext

 

Setelah semua tahap dari tahap penentuan plaintext
beserta kuncinya, enkripsi plaintext, dan dekripsi ciphertext selesai. Kita
bisa memulai menghitung korelasi antara plaintext dengan ciphertext yang
dihasilkan menggunakan format excel. Terlebih dahulu kita susun semua plaintext
dan ciphertextnya. Kemudian gunakan rumus excel “=code(cellsselected)” untuk
menentukan ascii code dari plaintext dan ciphertextnya. Untuk mencari
korelasinya maka kita memakai rumus excel
“=correl(cellsselected,cellsselected)” untuk semua ascii codenya kemudian kita
absolutkan nilanya dengan rumus “=abs(cellsselected)”.

 

4.    
Hasil
dan Pembahasan

 

Dari penelitian yang dihasilkan sebelumnya telah diketahui
bahwa korelasi antara ciphertext dengan menggunakan metode rotor adalah seperti
pada tabel 1.

 

Tabel 1 Korelasi Menggunakan Metode Rotor

NO

PLAINTEXT

CIPHERTEXT

KORELASI

1

FTIUKSWSALATIGA

ZTHYBNGNPIPTHCP

0.101687509

2

KAMPUSBLOTONGAN

BPVFYNSIKTKJCPJ

0.101283731

3

ALZDANNYWOWOR

PILWPJJXGKGKR

0.271494822

4

WIDRAWIDYAPUTRA

GHWRPGHWXPFYTRP

0.065510995

5

SALATIGAJATENG

NPIPTHCPQPTHJC

0.19989833

6

WISATAKOPENG

GHNPTPBKFHJC

0.015207381

7

GUNUNGMERBABU

CYJYJCVHRSPSY

0.488117882

8

RAWAPENING

RPGPFHJHJC

0.231146016

9

KOPIBANARAN

BKFHSPJPRPJ

0.486647658

10

VANIABEATRICE

OPJHPSHPTRHDH

0.231438382

 

RERATA

 

0.219243271

1

XZZZZZZZ

MLLLLLLL

1

2

ZXZZZZZZ

LMLLLLLL

1

3

ZZXZZZZZ

LLMLLLLL

1

4

ZZZXZZZZ

LLLMLLLL

1

5

ZZZZXZZZ

LLLLMLLL

1

6

ZZZZZXZZ

LLLLLMLL

1

7

ZZZZZZXZ

LLLLLLML

1

8

ZZZZZZZX

LLLLLLLM

1

 

RERATA

 

1

TOTAL RERATA

0.566246262

 

Kemudian korelasi antara plaintext dengan ciphertextnya
menggunakan metode substitusi index seperti pada tabel 2.

Tabel 2 Korelasi Menggunakan Metode Substitusi Index

NO

PLAINTEXT

CIPHERTEXT

KORELASI

1

FTIUKSWSALATIGA

IUASTSKAALGFTIW

0.157225964

2

KAMPUSBLOTONGAN

GPOLNSUONTAKAMB

0.000110205

3

ALZDANNYWOWOR

AOWWRDLZYANON

0.392576419

4

WIDRAWIDYAPUTRA

TRYDUWAPAARWIDI

0.007240453

5

SALATIGAJATENG

AATSAGJNLTIEAG

0.453734914

6

WISATAKOPENG

IANOASEWKGTP

0.200169996

7

GUNUNGMERBABU

NBARUUUNEGGBM

0.091827768

8

RAWAPENING

NIRAAPEWNG

0.259560618

9

KOPIBANARAN

NOPRNABAIKA

0.209008297

10

VANIABEATRICE

ARITEIANAVBCE

0.106625713

 

RERATA

 

0.187808035

1

XZZZZZZZ

ZZZZZZZX

0.142857143

2

ZXZZZZZZ

ZZZZZZXZ

0.142857143

3

ZZXZZZZZ

ZZXZZZZZ

1

4

ZZZXZZZZ

ZZZZXZZZ

0.142857143

5

ZZZZXZZZ

ZZZXZZZZ

0.142857143

6

ZZZZZXZZ

XZZZZZZZ

0.142857143

7

ZZZZZZXZ

ZXZZZZZZ

0.142857143

8

ZZZZZZZX

ZZZZZXZZ

0.142857143

 

RERATA

 

0.25

TOTAL RERATA

0.215448908

 

Hasil dari enkripsi dan dekripsi dengan menggunakan
metode DES adalah seperti pada tabel 3.

 

Tabel 3 Korelasi Menggunakan Metode DES

NO

PLAINTEXT

CIPHERTEXT

KORELASI

1

FTIUKSWSALATIGA

ò`E >©
¨… ­%P­

0.39554766

2

KAMPUSBLOTONGAN

öLÀ§i`âÆ9°

0.027885189

3

ALZDANNYWOWOR

0.206181292

4

WIDRAWIDYAPUTRA

ÿ?g „ß­å27ýEÎë

0.338333506

5

SALATIGAJATENG

Cj™Ö?9û¾›Ÿm

0.329619304

6

WISATAKOPENG

ÿðZtx ÌÕÑ}´£³”E·

0.461116658

7

GUNUNGMERBABU

33¢j”0º~YÕ›Ñøï

0.130278285

8

RAWAPENING

çYÛÀZJ£¤¢äën©
¨… ­%P­

0.328415057

8

ZZZZZZZX

4’ï¾#ËØÍ?+ ‹oѦS

0.263143928

 

RERATA

 

0.327136224

TOTAL RERATA

0.33041882

 

Hasil dari enkripsi dan dekripsi dengan menggunakan
metode AES-128 adalah seperti pada tabel 4.

Tabel 4 Korelasi Menggunakan Metode AES-128

No

PLAINTEXT

CIPHERTEXT

KORELASI

1

FTIUKSWSALATIGA

[email protected]­³­Ä6?ËÒaw?À

2

KAMPUSBLOTONGAN

7F?DüWj??±¼£d«ó

3

ALZDANNYWOWOR

âKód¾Q«²Ø’êð¤Bi?

4

WIDRAWIDYAPUTRA

ï£Vq??ç7?éCú?Ñ

5

SALATIGAJATENG

ÙåÙÊFR»2Q?J Ϻ(^

8

ZZZZZZZX

ïÛüÚ£K-Ó?W×9æ

 

RERATA

 

TOTAL RERATA

 

 

 

5.    
Kesimpulan
dan Saran

 

Dalam penelitian kali ini ditemukan bahwa
korelasi dari plaintext terhadap plaintext dari tiap metode enkripsi dekripsi
data berbeda-beda. Rerata korelasi dengan metode enkripsi-dekripsi rotor adalah
0.566246. Dengan metode
substitusi index 0.215449. Dengan metode DES 0.330419. Dan dengan metode AES
adalah …..

Jika kita meninjau lamanya proses dekripsi
dan enkripsi antara DES dan AES adalah berkisar antara 1 detik (menggunakan
JAVA Application) dan volume textnya sama-sama tidak lebih dari 1kb jika
dilihat melalui properties. Tetapi dalam jumlah bitnya AES menghasilkan jumlah
bit yang relatif lebih banyak dari metode DES. Antara metode DES & AES jika
dibandingkan dengan metode rotor dan substitusi index tentu volume datanya
lebih besar jika menggunakan DES & AES. Secara sekilas korelasi jika
menggunakan DES & AES hanya berselisih sedikit jika dibandingkan 2 metode
sebelumnya, tetapi jika dilihat dari ciphertext yang dihasilkan maka metode DES
& AES akan lebih aman karena ciphertextnya sama sekali tidak bisa dipahami
(menghasilkan symbol-simbol yang bahkan microsoft office tidak bisa
mengakomodasi).

Dengan Panjangnya kunci yang digunakan,
metode AES lebih aman dibandingkan metode DES (minimal 16 karakter untuk
AES-128).

 

6.    
Daftar
Pustaka

 

1

Kriptografi, URL: https://kbbi.web.id/kriptografi
Tanggal akses: 5 Desember 2017 20:04

2

SejarahKriptografi, URL:
http://www.komputerdia.com/2017/10/pengertian-kriptografi-sejarah-dan-jenis-kriptografi.html
Tanggal akses: 5 Desember 2017 20:34

3

DES dan AES, URL: https://access.redhat.com/blogs/766093/posts/1976023
Tanggal akses: 5 Desember 2017 21:04

4

Advanced Encryption Standard, URL:
http://en.wikipedia.org/wiki/ Advanced_Encryption_Standard Tanggal akses: 5
Desember 2017 22:04